Yah, mo gimana lagi. Dimana2 macet, mungkin si Komo lagi lewat, wakakakaka. Mungkin ada masih teringat akan lagu kak Seto yang judulnya Si Komo Lewat. Namun saya bukan ingin mengungkit lagu anak2 yang sekarang sudah tidak ada karena anak2 sudah pada hafal lagu artis plagiat negara ini. Namun, macet yang sudah menjadi trend di negara bukan serikat, Indonesia. Jika ditelisik, bukan saja perkembangan kendaraan bermotor yang semakin murah meriah (khususnya roda 2 dan bukan roda 3) dengan jalan yang tidak melar2 karena buat beli tanah dari duit hasil pajak saja masih masuk kantong2 yang masih bolong dimana2. Mari kita uraikan sedikit demi sedikit (soalnya klo lama2 takutnya ntar jadi bukit kembar siam) :
- 1. Penduduk semakin berkembang pesat Kependudukan di Indonesia sebenarnya menjadi senjata yang kuat JIKA penduduknya paham akan kelebihan dan kekurangannya masing2. Maksudnya, jika punya duit lebih itu bisa disumbang ke saya, ehehehehe. Tidak ingin mengungkit2 siswa SMP yang tak bisa melanjutkan ke SMU karena tidak punya biaya buat aborsi janinnya. Tidak pula mengungkit lebih dari 90% di salah satu kota Indonesia yang ternyata sudah tidak perawan lagi (lha jatah gue mana, hikz). Namun, saya takut, jika jumlah penduduk yang lebih dari 202 juta ini, separuhnya saja demo ke Jakarta menuntut perbaikan kehidupan !!
- 2. Motor semakin mudah didapat Indonesia boleh bangga dengan produksi motor terbesar tertinggi seAsia pada pertengahan 2010. Namun, jika banyak motor, apakah sudah diimbangi dengan banyaknya jumlah tukang tambal ban ? Produsen semakin memacu produksi, para marketing yang cantik nan bohay juga semakin terimingi dengan jumlah bonus jika bisa menjual sekian ratus mtor dalam sekian waktu. Tapi klo cantik kok gak naksir gue y ??? Tidak punya uang tunai ? tenang, ada kredit non macet layaknya jalan yang sudah macet duluan.
- 3. Angkutan umum mahal Siapa bilang menggunakan kendaraan umum jauh lebih murah (dari sisi Rp.) jika dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi ? saya lho pernah kalkulasi. Motor saya adalah Honda Kharisma 125 D 2003 (bukan promosi, toh beli juga 2nd), jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja kurang lebih 3 Km. Jika saya naek angkot, Rp. 2000 x 12 (6 hari kerja, PP) = Rp. 24.000. Jika saya naek motor butut yang bisa menyalip baik bus maupun truk waktu keduanya mogok/lg ngetem, cuman Rp. 10.000 doang. Nah, bedanya Rp. 14.000 kan ? Lumayan lah klo ditambah Rp. 11.000 saya sudah bisa nonton di Cineplex XXI walopun donlot tuh film gratis (donlot gratis, koneksinya seh bayar >,<)
- 4. Tidak ada trotoar Apa hubungannya antara trotoar dengan kemacetan ? trotoar yang sejatinya adalah jalur pedestrian, ternyata dialihfungsikan. Yap, orang Indonesia kan kreatif2, jadi trotoar fungsinya bukan tempat khusus pejalan kaki, namun menjadi lahan lapak dagangan karena pasar sudah terbakar dan banyaknya mini market yang jaraknya gak lebih dari sekilometer kurang secentimeter. Bahkan, dengan kreatifnya … pengendara motor menjadikan trotoar sebagai jalur alternatif karena jalan yang segitu lebarnya gak muat buat badan si empunya motor
- 5. Jam kerja dan jam sekolah yang tidak mau mengalah Antara orang tua dan anak sama2 tidak mau mengalah, pengen menang sendiri, padahal saya itu sudah jadi pemenangnya loh, wekekekeke. Salah satu kota di Indonesia pernah membuat jam sekolah lebih pagi dari jam kerja. Namun, ternyata masih macet juga. Simpel saja, guru kan kerja, jadi siswa sekolah daripada gak ketemu guru, ya gimana caranya pas siswa datang, guru juga datang. Balik asal lagi dah
- 6. Siswa memakai kendaraan pribadi ke sekolah Loh, bukannya syarat menggunakan kendaraan pribadi itu harus mempunyai SIM a.k.a Surat Ijin ML, eh salah, yg bener Mengemudi ^^. Lha emang para siswa SMP itu usianya sudah 17 tahun ? hebat ya, masih SMP tapi umur terbilang tuwir. Klo saya mah, usia tua wajah imutz, gyahahahaha
- Solusi =>
- a. Perbaiki kualitas Kualitas disini juga berarti tingkat kenyamanan dari pemakai. Jika pemakai tidak nyaman, percuma juga walo harga yang dikeluarkan mahal. Tapi, dimana2, harga menentukan kualitas, jadi mending pake motor ah, loh >,<
- b. Murah Murah bukan berarti murahan. Karena seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, salah satu faktor kenapa masyarakat lebih suka memakai kendaraan pribadi adalah lebih murah. Jika angkutan umum dirasa lebih murah, bukankah masyarakat lebih memilihnya ketimbang kendaraan pribadi ?
- c. Tidak menunggu penumpang Menjadi sebuah masalah jika naik angkutan umum tapi malah menjadi terlambat. Sudah bukan rahasia umum, namun mo gimana lagi ? tuntutan setoran membuat mereka seperti itu
- d. Ndak perlu ngebut Ngebut = Benjut Mungkin diatas adalah salah satu iklan dari kepolisian. Disamping itu juga, ngebut lebih diartikan ugal2an. Sehingga, naik angkutan umum sama saja dengan sport jantung. Jadi, setelah turun dari angkutan umum, jantung kita tambah sehat gitu ^^
- e. Ramah Senyum ? tampang supir / kenek ja dah kek kriminal gitu kok, wakakakaka. Mungkin kesadaran dari penumpang juga, klo mo naek angkutan umum itu pake uang pas lah, kasian juga klo duitnya gede, kelamaan ngasih kembalian, lama2 gue tabok lu
Jika kendaraan pribadi tidak ada di jam2 sibuk itu, tinggal angkutan umum doang donk. Jalan lancar jaya aman tak terkendali dech
Jika kita melihat negara yang telah menjajah NKRI selama 3,5 abad, mereka membudidayakan sepeda onthel, soalnya mo budidaya lele ndak ada kolam air tawar. Ato bisa juga negara yang suka mengimpor koruptor Indonesia, yang apa2 denda. Buang sampah, denda. Kencing sembarangan, denda. Berak sembarangan, denda + tabokan warga sekampung. Macet, denda yang buat macet, si komo klo perlu di denda sekalian