Monday, July 11, 2011

Macet

Yah, mo gimana lagi. Dimana2 macet, mungkin si Komo lagi lewat, wakakakaka. Mungkin ada masih teringat akan lagu kak Seto yang judulnya Si Komo Lewat. Namun saya bukan ingin mengungkit lagu anak2 yang sekarang sudah tidak ada karena anak2 sudah pada hafal lagu artis plagiat negara ini. Namun, macet yang sudah menjadi trend di negara bukan serikat, Indonesia. Jika ditelisik, bukan saja perkembangan kendaraan bermotor yang semakin murah meriah (khususnya roda 2 dan bukan roda 3) dengan jalan yang tidak melar2 karena buat beli tanah dari duit hasil pajak saja masih masuk kantong2 yang masih bolong dimana2. Mari kita uraikan sedikit demi sedikit (soalnya klo lama2 takutnya ntar jadi bukit kembar siam) :
  • 1. Penduduk semakin berkembang pesat
  • Kependudukan di Indonesia sebenarnya menjadi senjata yang kuat JIKA penduduknya paham akan kelebihan dan kekurangannya masing2. Maksudnya, jika punya duit lebih itu bisa disumbang ke saya, ehehehehe. Tidak ingin mengungkit2 siswa SMP yang tak bisa melanjutkan ke SMU karena tidak punya biaya buat aborsi janinnya. Tidak pula mengungkit lebih dari 90% di salah satu kota Indonesia yang ternyata sudah tidak perawan lagi (lha jatah gue mana, hikz). Namun, saya takut, jika jumlah penduduk yang lebih dari 202 juta ini, separuhnya saja demo ke Jakarta menuntut perbaikan kehidupan !!
  • 2. Motor semakin mudah didapat
  • Indonesia boleh bangga dengan produksi motor terbesar tertinggi seAsia pada pertengahan 2010. Namun, jika banyak motor, apakah sudah diimbangi dengan banyaknya jumlah tukang tambal ban ? Produsen semakin memacu produksi, para marketing yang cantik nan bohay juga semakin terimingi dengan jumlah bonus jika bisa menjual sekian ratus mtor dalam sekian waktu. Tapi klo cantik kok gak naksir gue y ??? Tidak punya uang tunai ? tenang, ada kredit non macet layaknya jalan yang sudah macet duluan.
  • 3. Angkutan umum mahal
  • Siapa bilang menggunakan kendaraan umum jauh lebih murah (dari sisi Rp.) jika dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi ? saya lho pernah kalkulasi. Motor saya adalah Honda Kharisma 125 D 2003 (bukan promosi, toh beli juga 2nd), jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja kurang lebih 3 Km. Jika saya naek angkot, Rp. 2000 x 12 (6 hari kerja, PP) = Rp. 24.000. Jika saya naek motor butut yang bisa menyalip baik bus maupun truk waktu keduanya mogok/lg ngetem, cuman Rp. 10.000 doang. Nah, bedanya Rp. 14.000 kan ? Lumayan lah klo ditambah Rp. 11.000 saya sudah bisa nonton di Cineplex XXI walopun donlot tuh film gratis (donlot gratis, koneksinya seh bayar >,<)
  • 4. Tidak ada trotoar
  • Apa hubungannya antara trotoar dengan kemacetan ? trotoar yang sejatinya adalah jalur pedestrian, ternyata dialihfungsikan. Yap, orang Indonesia kan kreatif2, jadi trotoar fungsinya bukan tempat khusus pejalan kaki, namun menjadi lahan lapak dagangan karena pasar sudah terbakar dan banyaknya mini market yang jaraknya gak lebih dari sekilometer kurang secentimeter. Bahkan, dengan kreatifnya … pengendara motor menjadikan trotoar sebagai jalur alternatif karena jalan yang segitu lebarnya gak muat buat badan si empunya motor
  • 5. Jam kerja dan jam sekolah yang tidak mau mengalah
  • Antara orang tua dan anak sama2 tidak mau mengalah, pengen menang sendiri, padahal saya itu sudah jadi pemenangnya loh, wekekekeke. Salah satu kota di Indonesia pernah membuat jam sekolah lebih pagi dari jam kerja. Namun, ternyata masih macet juga. Simpel saja, guru kan kerja, jadi siswa sekolah daripada gak ketemu guru, ya gimana caranya pas siswa datang, guru juga datang. Balik asal lagi dah
  • 6. Siswa memakai kendaraan pribadi ke sekolah
  • Loh, bukannya syarat menggunakan kendaraan pribadi itu harus mempunyai SIM a.k.a Surat Ijin ML, eh salah, yg bener Mengemudi ^^. Lha emang para siswa SMP itu usianya sudah 17 tahun ? hebat ya, masih SMP tapi umur terbilang tuwir. Klo saya mah, usia tua wajah imutz, gyahahahaha  
     


    Solusi =>

  • 1. Angkutan umum

    • a. Perbaiki kualitas
    • Kualitas disini juga berarti tingkat kenyamanan dari pemakai. Jika pemakai tidak nyaman, percuma juga walo harga yang dikeluarkan mahal. Tapi, dimana2, harga menentukan kualitas, jadi mending pake motor ah, loh >,<
    • b. Murah
    • Murah bukan berarti murahan. Karena seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, salah satu faktor kenapa masyarakat lebih suka memakai kendaraan pribadi adalah lebih murah. Jika angkutan umum dirasa lebih murah, bukankah masyarakat lebih memilihnya ketimbang kendaraan pribadi ?
    • c. Tidak menunggu penumpang
    • Menjadi sebuah masalah jika naik angkutan umum tapi malah menjadi terlambat. Sudah bukan rahasia umum, namun mo gimana lagi ? tuntutan setoran membuat mereka seperti itu
    • d. Ndak perlu ngebut
    • Ngebut = Benjut Mungkin diatas adalah salah satu iklan dari kepolisian. Disamping itu juga, ngebut lebih diartikan ugal2an. Sehingga, naik angkutan umum sama saja dengan sport jantung. Jadi, setelah turun dari angkutan umum, jantung kita tambah sehat gitu ^^
    • e. Ramah
    • Senyum ? tampang supir / kenek ja dah kek kriminal gitu kok, wakakakaka. Mungkin kesadaran dari penumpang juga, klo mo naek angkutan umum itu pake uang pas lah, kasian juga klo duitnya gede, kelamaan ngasih kembalian, lama2 gue tabok lu
  • 2. Larangan kendaraan pribadi pada jam 6.00 – 9.00 dan 15.00 – 18.00

  • Jika kendaraan pribadi tidak ada di jam2 sibuk itu, tinggal angkutan umum doang donk. Jalan lancar jaya aman tak terkendali dech
  • 3. Tidak salahnya meniru

  • Jika kita melihat negara yang telah menjajah NKRI selama 3,5 abad, mereka membudidayakan sepeda onthel, soalnya mo budidaya lele ndak ada kolam air tawar. Ato bisa juga negara yang suka mengimpor koruptor Indonesia, yang apa2 denda. Buang sampah, denda. Kencing sembarangan, denda. Berak sembarangan, denda + tabokan warga sekampung. Macet, denda yang buat macet, si komo klo perlu di denda sekalian

    Jujur itu SALAH !

    Loh, emang salah ya menjadi orang jujur? Bukankah jaman sekarang ini sudah langka orang jujur? Kok jadi salah? Aneh2 neh. Ya mungkin saya rasa itu adalah pikiran di benak anda. Namun, saya menyalahkannya … untuk sekarang, esok,…mungkin saya membenarkan. Plin-plan kah saya? Jika itu untuk memuaskan anda, anggap saja iya, jika tidak, teruskan membacanya, ehehehehe
    Saat kita masih kanak2, sering kita dinasihatin, bohong itu tidak baik, bohong itu dosa. Namun, sekarang ini, jujur itu tidak baik, jujur itu bunuh diri, jujur itu membunuh teman anda sendiri. Mungkin kita masih ingat atau tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali, kasus yang menimpa salah satu siswa di salah satu kota Jawa Timur yang menceritakan (baca = melaporkan kepada pihak yang berwenang) secara apa adanya (baca = polos) tentang contekan masal saat Ujian Nasional. Saya bukan ingin membahas kasus itu, anggap saja itu salah satu contohnya saja. Pernah juga terjadi suatu kasus perkosaan di salah satu kampung (tapi bukan kampung saya, gak pernah keluar rumah seh, sibuk cari wangsit di kamar, wakakaka). Sang gadis yang dah kehilangan mahkota paling berharga untuk diberikan kepada suaminya kelak sebagai bukti tingginya harga yang harus dibayar sang laki2 yang ingin menjadi suaminya kelak, ternyata tidak ingin menceritakan apa yang terjadi kepadanya, dia tidak mau mengungkapkan laki2 yang hidupnya lebih rendah daripada hewan pengerat yang sering mengganggu rumah dan sawah petani2 di kampungnya. Dia beralasan, malu, takut, diancam, menjatuhkan martabat keluarga, dan lain2 yang sulit saya sebutkan karena saya sudah kehabisan contoh2nya. Lalu, dimana sebenarnya letak kesalahan jujur itu sendiri? Jamannya! Tentunya anda tidak buta dan tidak tuli atas apa yang terjadi di negara kita ini. Apakah anda sendiri sudah jujur kepada diri anda sendiri? Jika anda masih studi, apakah anda pernah jujur kepada orang tua alias orang yang memberikan anda uang untuk digunakan kebutuhan anda? Misalkan, untuk apa saja waktu anda, untuk apa saja uang yang telah diberikan, kemana saja anda selama studi. Apakah orang tua anda mahfum dengan kebohongan anda? Jika anda yang sudah berkeluarga (walo saya sendiri juga belum seh, ada yang mau mau mau ???), apakah anda jujur kepada pasangan anda saat anda melihat seseorang dan ternyata anda menyukainya walopun hanya sepersekian detik? Kenapa saya tahu, bukannya saya belum berkeluarga? Kan teman saya ada yang sudah berkeluarga, mereka juga memberikan tips2 untuk hebat di ranjang, biar klo tidur tidak sampe mendengkur, diantaranya, posisi kepala itu setidak2nya harus lebih tinggi dibandingkan leher.
    Pergunakan logic anda, selamatkan diri anda walo anda terpaksa membunuh nurani anda sendiri untuk berbohong. Jujur itu bagus, sangat bagus malahan, namun di jaman sekarang, di negara ini, I think you should rethinking again. Ampe belepotan gini ngomong inggris.

    Bilangan Biner == Our World ?

    Bilangan biner hanyalah 0 dan 1. Seperti dalam listrik, ada + dan -. Apakah dunia yang kita kenal juga seperti itu ? Jika ada kebenaran berarti ada keburukan, ada utara pasti ada selatan, ada timur so pasti ada barat. Tuhan juga menciptakan laki-laki dengan perempuan, DIA juga menciptakan surga dan neraka. Semua berkebalikan, atas dan bawah, vertikal dan horizontal, hitam dan putih.
    Namun ... apakah memang seperti itu adanya ? Jika anda benar apakah saya salah ? (Faith Without Fear, Irsyad Manji). Apakah jika saya memilih hitam menjadi salah di hadapan si putih ? Seperti terpisah antara 2 sisi yang berbeda dan tidak bisa disatukan. Memang, antara baik dan buruk tidak bisa disatukan, namun yang menjadi pertanyaan besar adalah ... mengapa ? Saya memang tidak ingin menyatukan antara keduanya karena memang tidak bisa disatukan, namun karena terdapat 2 yang berbeda itulah menyebabkan perpecahan. Apakah tidak dimungkinkan ada titik tengah diantaranya ? abu-abu misalnya ? abu-abu yang tidak akan pernah ke hitam namun abu-abu juga tidak seputih bersih layaknya si putih. Putih dengan sombongnya menyatakan bahwa dia bersih, suci, segala kebaikan berada pada dirinya. Sehingga, jangankan bergabung dengan si hitam, menyapa saja sudah tidak ingin. Si hitam yang merasa jelek, tak berharga, sepertinya juga tidak bakalan pantas jika bersentuhan dengan si putih. Between white and black, what's your choice ???